Rabu, 29 April 2020

CORONA DAN AUTENTISITAS KITA

sumber: health.grid.id

Sejak virus corona atau yang jamak disebut sebagai COVID-19 merebak, pemerintah mengimbau bahkan pada titik tertentu memaksa warganya untuk melakukan social distancing. Sampai  tulisan ini dibuat, tercatat 3.151.558 orang telah terinfeksi dengan korban meninggal mencapai lebih dari 218.473 jiwa di seluruh dunia, di mana 9.771 orang yang terinfeksi adalah warga negara Indonesia dengan jumlah kematian mencapai 784 jiwa (sumber worldometers.info).

Pemerintah Indonesia kemudian mengeluarkan kebijakan physical distancing bagi masyarakat. Istilah tersebut meralat istilah social distancing  yang terlanjur digunakan sebelumnya. Tujuan dari physical distancing yang diserukan oleh pemerintah ialah agar masing-masing individu sebisa mungkin mengisolasi dirinya atau membatasi aktivitas fisik yang berkerumun atau berdekatan dengan orang lain untuk memutus rantai penyebaran virus ini. Negara-negara lain pun mengalami kondisi serupa. Di beberapa negara yang terdampak parah, pemerintah setempat bahkan memutuskan untuk melakukan lockdown wilayah atau negara secara paksa.

Tentu saja pandemi ini bukan yang pertama kali, bahkan sudah yang  kesekian kali. Dengan kondisi yang seperti ini, sepertinya Tuhan tengah memberi alarm dan hikmah bagi kita. Pandemi seperti ini jangan kita anggap sebagai siksa, melainkan sebagai alarm dari Tuhan yang kuasa dan penuh welas asih. Dengan sikap tetap berbela sungkawa kepada korban meninggal, penulis membaca pesan bahwa Tuhan melalui pandemi ini membiarkan bumi untuk sejenak beristirahat dan sedikit bernafas lega.

AUTENTISITAS MANUSIA

Penulis mengajak pembaca untuk sejenak merenungkan pemikiran seorang filsuf Jerman bernama Martin Heidegger berkaitan dengan keberadaan manusia dan jarak yang akan mengantarkan kepada perenungan tentang autentisitas diri kita.

Heidegger mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang mempersoalkan tentang “Ada”. Di sisi lain, manusia adalah dasein, ia ada di sana; ia terjebak dalam ruang dan waktu tertentu. Eksistensi atau keberadaan manusia, menurutnya, adalah Ada yang berjarak (existenz). Manusia dapat mengambil jarak dari dirinya dan memperoalkan keberadannya yang terlempar-ke-dalam-dunia. Kita dapat mempersoalkan diri kita sekarang: mengapa kita kuliah tinggi-tinggi, atau mengapa kita bercita-cita menjadi dokter, misalnya.

Entah kita sadari atau tidak, menurut Heidegger, hidup kita terdiri dari tiga komponen: 1) terlempar di dunia yang kerap tidak diinginkan alias terlempar begitu saja (faktisitas); 2) rutinitas yang membuatnya tidak lagi otentik (keterjatuhan), dan; 3) mengantisipasi masa depan (pemahaman).

Kelarutan kita dalam rutinitas membuat kita tidak lagi autentik menjadi diri sendiri. Pekerjaan, hobi, dan gengsi kita membuat kita tidak lagi autentik (inautentik). Kita harus mengambil jarak agar kita dapat menyendiri dan berkontemplasi, memikirkan diri siapa sesungguhnya diri kita.

Ada satu hal dalam pandangan Heidegger yang dapat membongkar inautentisitas kita. Ya, kecemasan. Kecemasan akan muncul tatkala prahara berupa penyakit, kemiskinan, atau kematian menyentuh hidup kita. Kecemasan akan menelanjangi kepura-puraan dan selubung-selubung kepalsuan kita. Kecemasan membuat kita “terlempar” dalam palung-palung Ada kita sendiri. Kecemasan akan mengungkapkan siapa jati diri kita sebenarnya, autentisitas kita. Setelah menyadari autentisitas diri, kita harus mengorientasikan masa depan sesuai dengan autentisitas tersebut.

KEBERAGAMAAN YANG AUTENTIK

Penulis menemukan dalam tiga kesempatan (QS. al-Isra’: 67; QS. al-‘Ankabut: 75, dan; QS. Luqman: 32), al-Qur’an menyebutkan tentang orang-orang yang apabila ditimpa kesusahan hingga titik nadir, mereka mengesakan Allah dengan benar-benar memurnikan agama dan peribadatan untuk-Nya semata. Namun tatkala Allah menghindarkan mereka dari kesusahan, mereka kembali menyekutukan-Nya. Keberagamaan semacam ini adalah monoteisme temporal, tauhid sesaat.

Dibaca melalui perspektif Heideggerian, al-Qur’an tampak hendak  mengatakan bahwa prahara kesusahan mengungkap jati diri manusia. Manusia sebenarnya, ketika dihadapkan atau “terlempar” pada suatu kondisi yang menyentuh pangkal-pangkal kecemasannya, adalah makhluk yang lemah. Dalam situasi seperti itu, naluri alamiah dan diri autentiknya mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa yang patut disembah dan dimintai pertolongan. Namun tatkala ia kembali menjalani rutinitasnya, ia kembali melakoni kesyirikan yang justru membuatnya inautentik. Padahal seharusnya ia harus mengorientasikan masa depannya selaras dengan tauhid yang autentik tersebut.

KITA DAN CORONA

Dengan social disctancing saat ini, kita seolah terlempar pada suatu kondisi dunia di mana kita harus mengambil jarak, baik dari benda-benda, rutinitas, bahkan diri kita saat ini. Kecemasan terhadap prahara penyakit yang berpotensi maut ini seolah menelanjangi rutinitas dan diri kita, menyentuh urat-urat saraf kepalsuan kita. Ini adalah momen di mana seharusnya kita dapat memikirkan jati diri kita.

Dalam situasi gawat karena virus ini, pemerintah mengimbau  untuk mengurangi aktivitas ritual keagamaan yang bersifat kolektif. Di beberapa daerah terdampak parah, rumah ibadah “menuju” diliburkan. Tuhan seolah mengajak kita “menemukan-Nya” dalam kesendirian, alienasi, ketersendirian kita. Tuhan seolah berpesan bahwa Dia bukan berada di rumah ibadah, melainkan berada dalam relung hati kita yang terdalam.

"Terlempar" dalam situasi seperti ini, kita diajak merenung apakah kita termasuk orang-orang autentik temporal itu? Apakah kita benar-benar manusia tauhid atau justru bertauhid sesaat saja? Setidaknya, jika kita benar-benar berada dalam kecemasan tersebut, kita pasti menyadari suara nurani kita yang autentik bahwa kita adalah hamba Tuhan yang sepenuh hati mengabdi kepada-Nya.

Tidak salah dan tidak jarang kita menjadikan peristiwa kesusahan sebagai titik awal kita kembali kepada Tuhan. Akan tetapi, jangan sampai ketika pandemi ini berakhir, keberagamaan kita kembali terusik oleh iming-iming duniawi yang kita berhalakan: kesuksesan material yang eksploitatif, jabatan dan kekuasaan yang korup, dan penjarahan kita terhadap bumi pertiwi dengan berlagak sok menjadi tuhan. Jangan sampai kita mencampakkan iman autentik kita.

Kita dapat menguji autentisitas diri dalam ranah sosial. Praktik solidaritas kerap terjadi manakala kita merasa senasib sepenanggungan dengan orang lain. Kecemasan dalam menghadapi pandemi ini “melempar” kita untuk saling bergotong royong untuk memutus rantai penyebaran virus kecil nan berbahaya ini. Yang perlu kita perhatikan adalah apakah solidaritas sosial kita hanya solidaritas temporal yang hanya bertahan sampai pandemi ini selesai ataukah –dan semoga- menjadi langkah awal solidaritas sosial dan persatuan kebangsaan yang autentik dan konstruktif serta beriorentasi untuk jangka waktu yang panjang?

Demikian halnya dengan pemerintah. Kita dapat melihat apakah kecemasan serupa memancar dari diri mereka ataukah sebaliknya. Apakah autentisitas mereka tulus ikhlas demi rakyat atau sarat kepentingan pribadi yang sering diumbar justru merupakan autentitas mereka itu sendiri? Tentu kita berharap bahwa kecemasan-kecemasan rakyat dapat menyentuh relung hati pemerintah pengemban amanah untuk bekerja semaksimal mungkin memutuskan langkah bijak guna menghindari krisis yang lebih besar dan menyingkirkan kepentingan yang tidak penting.

Rabu, 06 Februari 2019

Menyunahkan Nikah Muda

“Hadirilah Seminar Nikah Muda”, “Nikah Muda Syar’i, Mudah, dan Murah”, “Enaknya Nikah Muda”, “Hijrah Cinta”. Sederet kata-kata itu belakangan ini menyeruak. Tujuannya jelas, mengajak muda-mudi untuk segera menikah. Tak jarang kata-kata manis islami arabi itu masih ditambahi pemanis-pemanis lain, foto-foto narasumber yang ganteng dengan ukhti-ukhti yang pakai cadar, seolah-olah paling islami sendiri. Peminatnya juga bejibun, apalagi muda-mudi lulusan SMA sampai mahasiswa semester tua. Terus apa hubungannya dengan tulisan ini kalau itu nggak ganggu kamu, Ferguso?

Senin, 10 September 2018

Warga Muhammadiyah dan Pengakuan Pancasila

Sebelumnya saya minta maaf bila tulisan saya ini menohok dan membuat kegaduhan
Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat Islam yang berdiri di Indonesia tentunya mengakui Pancasila sebagai ideologi negara dan Demokrasi Pancasila sebagai sistemnya. Secara historis, Ki Bagus Hadikusumo sebagai perwakilan Muhammadiyah kala itu turut merelakan "penghapusan tujuh kata dari Piagam Jakarta" yang artinya, beliau (dan Muhammadiyah) menerima kebulatan semua pihak untuk berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demokrasi Pancasila bukanlah sistem demokrasi sekuler yang melepaskan diri dari nilai-nilai keagamaan, bukan pula negara teokrasi yang menerapkan suatu sistem formalitas suatu hukum agama (termasuk khilafah). Demokrasi Pancasila adalah sintesa keduanya. Ia adalah demokrasi yang unik.

Sayangnya, pengakuan Muhammadiyah terhadap Pancasila sebagai "darul 'ahdi wa-syahadah" tidak selalu diamini segenap warganya. Masih ada warga Muhammadiyah yang ikut merongrong kedaulatan negara dan ikut mengkafirkan sistem ini beserta pemerintahnya. Tidak sedikit penelitian yang mengemukakan fakta tersebut. 

Kita harus bersikap jujur dan terbuka serta berterus terang dalam menghadapi semua masalah yang ada, agar apa pun yang kita lakukan bisa men­ja­di pela­jar­an bagi semua umat Islam dan mampu mendewasakan me­re­ka dalam ber­aga­ma dan berbang­sa. Salah satu temuan yang sa­ngat mengejutkan para peneliti lapangan adalah fenomena rangkap ang­go­ta atau dual membership, terutama antara Mu­ham­madi­yah dan garis keras, bahkan tim peneliti lapangan memperkirakan bah­wa sampai 75% pemimpin garis keras yang diwawancarai punya ikatan de­ngan Mu­ham­madiyah.
(LibForAll Foundation, _Ilusi Negara Islam_, (Jakarta: The Wahid Institute, 2009), h28)

Yang harus menjadi introspeksi bagi kita semua adalah sebagai warga Muhammadiyah yang mengakui Pancasila sebagai "darul 'ahdi wa-syahadah", kita juga harus memahamkan pengakuan resmi Muhammadiyah tersebut kepada saudara-saudara kita, terlebih sesama warga Muhammadiyah. Terlepas dari penilaian melencengnya demokrasi kita dari asas Pancasila menuju liberal, itu adalah wilayah garapan jihad konstitusi kita dengan cara yang konstitusional.
Billahi fi sabilil haq
Fastabiqul Khairat

Titik Pemahaman Agama

Titik yang menjadi perbedaan dalam memahami teks agama (dalil/nash) antara sebagian kalangan agamawan dan sebagian yang lain adalah tuntutan ketaatan di satu sisi dan tuntutan realita zaman di sisi yang lain.
Dalam Islam, QS Al-Baqarah [2]:285 menjadi poin yang tidak bisa dihindarkan. Pasalnya, di sana disebutkan bahwa Rasul dan kaum beriman mendengar dan mematuhi (و قالوا سمعنا و أطعنا) terhadap apa yang diturunkan kepada Rasul. Hal ini kemudian menjadi dasar pemahaman teks yang cenderung skriptualistik dengan rasa budaya Timur: ketaatan.
Di lain pihak, ada tuntutan untuk merubah pemahaman teks sesuai tuntutan realita. Ini ditujukan agar Islam tetap berada dalam treknya sesuai kaidah [Islam relevan bagi setiap zaman dan tempat / الإسلام صالح لكل زمان و مكان] yang menjadi konsekuensi dari Islam sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin). Tentu 'agaknya' pemahaman seperti ini terkadang dirasa bercita rasa Barat: liberalisasi (pembebasan).
Memang semua pihak bersepakat bahwa ada hal-hal yang tidak boleh dirubah secara prinsipil dan ada hal-hal parsial yang memungkinkan pemahaman akan teks untuk dirubah secara parsial. Bedanya adalah terkadang hal-hal itu dilihat dari kacamata yang tidak sama.

Islam Yes, Jawa Yes

Bagi saya, menjadi Islam dan menjadi orang Jawa adalah sebuah kodrat. Islam sebagai perjanjian di alam sebelum alam ini (perjanjian langit) dan Jawa sebagai kehendak Allah yang menjadi konsekuensi dari sunnatullah tentang keberadaan saya (perjanjian bumi). Dua entitas yang tidak dapat dipertentangkan. Ketika keduanya dipertentangkan satu sama lain, maka status manusia itu akan gugur sendirinya.

Sederhananya seperti ini. Allah adalah Sang Maha Pencipta. Dia menciptakan sekaligus menakdirkan saya sebagai manusia ataupun hewan yang berfikir (menurut Plato atau Aristoteles?). "Syarat sah" menjadi manusia adalah dia tinggal di bumi. Kalau di langit namanya malaikat kan ya? Dan suatu keniscayaan manusia adalah hidup bersama. Bahkan Nabi Adam as pun ketika tinggal di 'surga' juga hidup bersama istrinya kan 
Penciptaan Allah sekaligus roh yang bersemayam di jasad saya (serem amat bahasanya haha) adalah perjanjian langit. Sedangkan tinggalnya saya di Jawa adalah perjanjian bumi karena saya terikat dengan dimensi ruang dan waktu. Pun hidup bersama (bermasyarakat) adalah kodrat manusia secara historis.

Kalau salah satu dari dua entitas di atas gugur, status kemanusiaan saya (dan Anda juga tentunya) akan turut gugur. (1) Jika Allah tidak menciptakan saya, maka saya tidak ada (nihil). (2) Jika Allah menciptakan saya, maka kemudian ciptaan Allah (saya) terikat pada dimensi ruang dan waktu. Allah "harus" menyediakan waktu dan ruang agar saya bisa ada.
Jadi dari sini, keduanya tidak dapat dipertentangkan. Bahkan oleh semua makhluk sekalipun.

Di sini semoga dapat membantu menjawab pertanyaan yang menurut saya konyol, bahkan sangat konyol: kita sebagai orang Islam yang tinggal di Indonesia atau orang Indonesia yang beragama Islam?

Kemudian, pelengkap bentuk-manusia untuk menjadi manusia (insan/human/homo sapiens) adalah dia diberi akal budi sebagai alat untuk merealisasikan fungsinya sebagai hamba Tuhan (Abdullah) dan tugasnya sebagai pengayom/pemakmur bumi (khalifatullah fi-l ardh). Dengan akal budi dan naluri manusia untuk bermasyarakat, timbullah kesepakatan-kesepakatan dan nilai-nilai serta hal-hal lain baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Itulah apa yang disebut budaya. Di dalamnya, menurut saya, termasuk agama, mengingat naluri manusia dari setiap zaman dan tempat adalah mencari Tuhan dan bertuhan.

Anda boleh saja tidak sependapat dengan saya mengenai hal ini dengan sudut pandang dan pertimbangan Anda sendiri. Saya pun nanti bisa mempertimbangkannya.

Beragama tidak dapat diekspresikan tanpa budaya. Pun budaya sebagai aktualisasi potensi akal budi manusia tidak boleh menafikan "intervensi" Tuhan yang menciptakan manusia.

Bila kemudian ada yang menanggapi budaya adalah segala hal negatif yang wajib dijauhkan bahkan dipertentangkan dengan agama, maka definisi tersebut bukanlah definisi budaya menurut saya yang merujuk kepada para ilmuwan.

Jika dilihat dari kacamata agama Islam khususnya, memang terdapat ajaran budaya yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Contohnya klenik sihir, berpakaian yang tidak menutupi apa yang dalam Islam disebut aurat, dan tradisi minum arak. Tapi itu hanya bagian dari budaya, bukan keseluruhan budaya itu sendiri.

Meminjam kalimat Cak Nun (Emha Ainun Najib), Anda yang laki-laki akan tetap sah sholatnya jika hanya menggunakan sarung yang menutupi sebatas antara pusar sampai lutut. Tapi apakah Anda akan berani menggunakan pakaian itu untuk sholat jamaah di masjid? Saya yakin pasti tidak. Kenapa? Karena ada nilai kesopanan masyarakat. Kesopanan masyarakat sendiri termasuk ke dalam budaya. Pun pakaian yang digunakan untuk melaksanakan perintah agama dalam menutup aurat adalah bagian dari budaya juga.

Dari penjelasan yang agak panjang (semoga Anda tidak pusing 😅😅), semoga kita semua dapat mengambil kebijaksanaan dalam melakukan sesuatu. Terkadang orang yang keras dalam beragama adalah benar meskipun tidak selalu baik dan bijaksana. Terkadang pula, orang yang keras dalam berbudaya adalah baik meskipun tidak benar. Maka hendaklah kita berusaha mendaki tebing kebenaran (الحق) dan kebaikan (الخير، المعروف، الحسن، الصالح) dengan bijaksana (الحكمة).

Paradoks bermuhammadiyah

Memang aku bukanlah orang yg paling paham Muhammadiyah. Atau bahkan jangan2 aku bukan warga Muhammadiyah. Tapi sebagai manusia (kalau tidak menyebut aku muslim), aku punya kewajiban mengkritik dan mengingatkan
Penyakit _kronis_ warga Muhammadiyah hari ini adalah tidak mau membaca pemikiran Islam dengan pembacaan baru dan melanggengkan status quo (statis). Padahal keadaan inilah yang membuat Mbah Ahmad Dahlan terdorong mendirikan Muhammadiyah, gerakan baru untuk mendobrak paham Islam yang statis. Sayangnya banyak warga Muhammadiyah yang _mengkhianati_ perjuangan beliau dengan melanggengkan status quo bermuhammadiyah dan sibuk pada rutinitas formal-normatif tanpa menangkap ruh gerakan ini.
Sering orang mengira bermuhammadiyah adalah sebuah tujuan. Bukan. Muhammadiyah adalah perjuangan. Bermuhammadiyah adl proses, jalan, bukan tujuan yg membuat orang statis berislam.
Warga Muhammadiyah jumawa menganggap dirinya sebagai anggota dari sebuah organisasi yang mendobrak drpd status quo kalangan tradisional kala itu. Barangkali ia hanya melihat sejarah masa lalu (romantisme sejarah) tapi tidak melihat dirinya yang sekarang.
Dewasa ini, bahkan yang kita katakan sebagai kalangan tradisional-konservatis-kolot (NU) malah menjelma sebagai neotradisionalis: kontributor paham baru dalam khazanah pemikiran Islam yang mendobrak. Mau tidak mau harus kita akui itu. Pak Haedar Nashir menuliskan itu dalam bukunya _Memahami Ideologi Muhammadiyah_. Sedangkan warga Muhammadiyah sendiri yang awalnya progresif berubah menjadi konservatif dan statis dengan paham dan tafsir yang monolitik. Sebuah paradoks bermuhammadiyah.
Ciputat, 7-9-2018

Minggu, 12 Agustus 2018

Agama dan Budaya: Saling Bertentangan?

Bagi saya, menjadi Islam dan menjadi orang Jawa adalah sebuah kodrat. Islam sebagai perjanjian di alam sebelum alam ini (perjanjian langit) dan Jawa sebagai kehendak Allah yang menjadi konsekuensi dari sunnatullah tentang keberadaan saya (perjanjian bumi). Dua entitas yang tidak dapat dipertentangkan. Ketika keduanya dipertentangkan satu sama lain, maka status manusia itu akan gugur sendirinya.

Sederhananya seperti ini. Allah adalah Sang Maha Pencipta. Dia menciptakan sekaligus menakdirkan saya sebagai manusia ataupun hewan yang berfikir (menurut Plato atau Aristoteles?). "Syarat sah" menjadi manusia adalah dia tinggal di bumi. Kalau di langit namanya malaikat kan ya? Dan suatu keniscayaan manusia adalah hidup bersama. Bahkan Nabi Adam as pun ketika tinggal di 'surga' juga hidup bersama istrinya kan :)

Penciptaan Allah sekaligus roh yang bersemayam di jasad saya (serem amat bahasanya haha) adalah perjanjian langit. Sedangkan tinggalnya saya di Jawa adalah perjanjian bumi karena saya terikat dengan dimensi ruang dan waktu. Pun hidup bersama (bermasyarakat) adalah kodrat manusia secara historis.

Kalau salah satu dari dua entitas di atas gugur, status kemanusiaan saya (dan Anda juga tentunya) akan turut gugur. (1) Jika Allah tidak menciptakan saya, maka saya tidak ada (nihil). (2) Jika Allah menciptakan saya, maka kemudian ciptaan Allah (saya) terikat pada dimensi ruang dan waktu. Allah "harus" menyediakan waktu dan ruang agar saya bisa ada.
Jadi dari sini, keduanya tidak dapat dipertentangkan. Bahkan oleh semua makhluk sekalipun.

Di sini semoga dapat membantu menjawab pertanyaan yang menurut saya konyol, bahkan sangat konyol: kita sebagai orang Islam yang tinggal di Indonesia atau orang Indonesia yang beragama Islam?

Kemudian, pelengkap bentuk-manusia untuk menjadi manusia (insan/human/homo sapiens) adalah dia diberi akal budi sebagai alat untuk merealisasikan fungsinya sebagai hamba Tuhan (Abdullah) dan tugasnya sebagai pengayom/pemakmur bumi (khalifatullah fi-l ardh). Dengan akal budi dan naluri manusia untuk bermasyarakat, timbullah kesepakatan-kesepakatan dan nilai-nilai serta hal-hal lain baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Itulah apa yang disebut budaya. Di dalamnya, menurut saya, termasuk agama, mengingat naluri manusia dari setiap zaman dan tempat adalah mencari Tuhan dan bertuhan.

Anda boleh saja tidak sependapat dengan saya mengenai hal ini dengan sudut pandang dan pertimbangan Anda sendiri. Saya pun nanti bisa mempertimbangkannya.

Beragama tidak dapat diekspresikan tanpa budaya. Pun budaya sebagai aktualisasi potensi akal budi manusia tidak boleh menafikan "intervensi" Tuhan yang menciptakan manusia.

Bila kemudian ada yang menanggapi budaya adalah segala hal negatif yang wajib dijauhkan bahkan dipertentangkan dengan agama, maka definisi tersebut bukanlah definisi budaya menurut saya yang merujuk kepada para ilmuwan.

Jika dilihat dari kacamata agama Islam khususnya, memang terdapat ajaran budaya yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Contohnya klenik sihir, berpakaian yang tidak menutupi apa yang dalam Islam disebut aurat, dan tradisi minum arak. Tapi itu hanya bagian dari budaya, bukan keseluruhan budaya itu sendiri.

Meminjam kalimat Cak Nun (Emha Ainun Najib), Anda yang laki-laki akan tetap sah sholatnya jika hanya menggunakan sarung yang menutupi sebatas antara pusar sampai lutut. Tapi apakah Anda akan berani menggunakan pakaian itu untuk sholat jamaah di masjid? Saya yakin pasti tidak. Kenapa? Karena ada nilai kesopanan masyarakat. Kesopanan masyarakat sendiri termasuk ke dalam budaya. Pun pakaian yang digunakan untuk melaksanakan perintah agama dalam menutup aurat adalah bagian dari budaya juga.

Dari penjelasan yang agak panjang (semoga Anda tidak pusing 😅😅), semoga kita semua dapat mengambil kebijaksanaan dalam melakukan sesuatu. Terkadang orang yang keras dalam beragama adalah benar meskipun tidak selalu baik dan bijaksana. Terkadang pula, orang yang keras dalam berbudaya adalah baik meskipun tidak benar. Maka hendaklah kita berusaha mendaki tebing kebenaran (الحق) dan kebaikan (الخير، المعروف، الحسن، الصالح) dengan bijaksana (الحكمة).

Minggu, 10 Desember 2017

Merevisi tafsiran alam untuk manusia

Alam ini tidak diciptakan hanya untuk manusia. Artinya, manusia tidak memiliki hak untuk mengeksploitasi alam ini semau mereka. Tafsiran para pemuka agama bahwa alam diciptakan untuk manusia dewasa ini kiranya perlu direvisi kembali sehubungan pola pikir yang terbentuk kemudian pada manusia itu sendiri yang selanjutnya merasa berhak berbuat semaunya atas alam indah yang Tuhan ciptakan ini.

Kamis, 09 November 2017

kemilau jebakan individualisme; sebuah opini

        Sebuah broadcast di jejaring sosial akhir-akhir ini santer 'memotivasi' untuk tidak memedulikan omongan orang lain. Isinya bahwa omongan orang lain hendaknya hanya dijadikan sebagai angin lalu tanpa perlu diacuhkan. Mengomentari urusan orang lain dianggap tidak penting, membuang waktu, menyia-nyiakan tenaga, dan tidak bermanfaat apa-apa bagi sang komentator. Pun begitu sebaliknya dengan orang yang dikomentari, tidak ada gunanya mendengar omongan orang, hanya menghambat pekerjaan dan karirnya semata.

Rabu, 08 November 2017

secuil prihatin petani

Tiada penerus bagi petani
Mayoritas anak petani, dan anak-anak lain, disekolahkan tinggi-tinggi adalah untuk menjauhi profesi petani. Sebenarnya apa sih yang salah dengan profesi petani yang mulia ini? Bukankah petani adalah pahlawan umat manusia, yang memenuhi kebutuhan pangan manusia? Apa jadinya bila beberapa dekade mendatang petani adalah 'sesosok pahlawan' yang langka dan jarang ditemui, sedangkan yang berkeliaran adalah para pekerja sektor formal yang mungkin hanya mengurusi kebutuhan sekunder manusia? Apakah manusia kelak bisa hidup dan dikenyangkan hanya dengan gadget dan koneksi internet?

Jumat, 09 Juni 2017

Secuil potret tentang pendidikan di Indonesia

Berbicara tentang pendidikan di Indonesia, hmmm... bagaimana ya. Mimin di sini sedikit menangis memikirkannya.. Walaupun sudah lumayan banyak anak negeri yang berhasil menjuarai beberapa perlombaan di event internasional, tapi mimin tetap merasa ada yang kurang, gan. Pendidikan di Indonesia itu belum merata gitu... Ini mimin paparkan sedikit pengetahuan mimin mengenai pendidikan kita 😢

Kamis, 08 Juni 2017

Analisis SWOT Kabupaten Gresik

Analisis Kab Gresik

Oke gan, untuk kali ini mimin mau ngebagiin sedikit pengetahuan mimin tentang kabupaten Gresik. Kenapa Gresik? Ya karena mimin orang Gresik, hehe...
Ini sebenarnya hasil tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganeraan (PKn) mimin. Masa'? Kata dosennya sih biar kita pas balik ke daerah masing", kita bisa ngembangin daerah kita. Makanya dalam pembahasan kali ini digunakan analisis SWOT. Kalo nggak tau apa itu SWOT silahkan cari di google aja yah, hehe..
Silahkan menyimak 😁

Senin, 05 Juni 2017

Muhammadiyah: Spirit, Ideologi, dan Dakwah Kultural

Sebuah organisasi berdiri tidak begitu saja, melainkan ada beberapa hal yang mendorongnya berdiri. Organisasi keagamaan, sosial, ataupun partai politik tentu mempunyai dasar-dasar ia didirikan. Begitu pula dengan Muhammadiyah, sebuah organisasi sosial-keagamaan yang merupakan organisasi Islam modern terbesar di tanah air mempunyai alasan ia didirikan.

Senin, 29 Mei 2017

Kondisi kini

Ketika

Ketika pejabat menjadi khianat
tak lagi terhadap aturan berlaku taat
hanya terus perbanyak maksiat
janji manis politik sebatas siasat